Sejarah Nganjuk dalam rangka Hut Nganjuk ke 1078

Sejarah Nganjuk dalam rangka Hut Nganjuk ke 1078

Sejarah Nganjuk dalam rangka Hut Nganjuk ke 1078

Pernah Di ceritakan juga dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa, Sekitar tahun 929 M, di Nganjuk, tepatnya di Desa Candirejo Kecamatan Loceret, telah terjadi pertempuran berdarah antara prajurit Mpu Sendok, yang pada waktu itu bergelar Mahamantri I Hino (Panglima Perang) melawan para prajurit Kerajaan Melayu/Sriwijaya.



1hutnganjuk1078



Sebelumnya pada setiap pertempuran, mulai dari pesisir Jawa sebelah barat hingga Jawa Tengah kemenangan senantiasa ada dipihak para prajurit Melayu. Kemudian pada pertempuran berikutnya, di daerah Nganjuk, para prajurit Mpu Sendok memperoleh kemenangan yang telak. Kemenangan ini tidak lain karena Mpu Sendok mendapat dukungan penuh dari rakyat desa-desa sekitarnya. Berkat keberhasilan dalam pertempuran tersebut, Mpu Sendok dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Sri Maharaja mPu Sendok Sri Isanawikrama Dharmatunggadewa.











Kurang lebih delapan tahun kemudian, Sri Maharaja mPu Sendok tergugah hatinya untuk mendirikan sebuah tugu kemenangan atau Jayastamba dan sebuah Candi atau Jayamerta. Dan terhadap masyarakat desa sekitar candi, karena jasa- jasanya didalam membantu pertempuran, oleh mPu Sendok diberi hadiah sebagai desa perdikan atau desa bebas pajak dengan status sima swatantra :"ANJUK LADANG”. ANJUK berarti tinggi, atau dalam arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang; "LADANG" berarti tanah atau daratan. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian berkembang menjadi daerah yang lebih luas dan tidak hanya sekedar sebagai sebuah desa.



3hutnganjuk1078





4hutnganjuk1078





5hutnganjuk1078



6hutnganjuk1078



9hutnganjuk1078



Sedangkan perubahan nama “ANJUK” menjadi NGANJUK, karena proses bahasa, atau merupakan hasil proses perubahan morfhologi bahasa, yang menjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa. Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena gejala usia tua dan gejala informalisasi, disamping adanya kebiasaan menambah konsonan sengau “NG” pada lingga kata yang diawali dengan suara vokal, yang menunjukkan tempat. Hal demikian inilah yang merubah nama “ANJUK” menjadi “NGANJUK”.





Sumber : Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PANITIA PERINGATAN HARI JADI NGANJUK; SEJARAH SINGKAT KABUPATEN NGANJUK, 1996



Foto HUT Nganjuk 1078 kiriman dari :







Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Advertiser