Sejarah Pendiri PSHT di Belanda

Sejarah Pendiri PSHT di Belanda

Sejarah Pendiri PSHT di Belanda

Hardjono Turpijn Sejarah Pendiri PSHT di Belanda

Pendiri PSHT di Belanda
Hardjono Turpijn


Hardjono Turpijn lahir pada tanggal 28 Agustus 1929 di Yogyakarta dan tumbuh besar di Madiun. Ia mulai jatuh cinta pada pencak silat pada usia 13 tahun di bawah asuhan Kiaji Ireng, saat belajar di pondok Pesantren.

Kemudian, Hardjono muda diasuh oleh Guru Besar Ki Ngabehi Soerordiwirdjo dan Ki Hadjar Hardjo Oetomo (Pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate).

Pada tahun 1945, Eyang Suro sebutan Kiaji Ngabehi Soerordiwirdjo meninggal dunia karena mengidap penyakit.

Hardjono Turpijn Kemudian meneruskan latihan pencak silat bersama ayah dan asistennya, Ki Hadji Abdullah. Keduanya meninggal dunia selama revolusi kemerdekaan pada tahun 1945.

Semenjak saat itu, turpijn melewati masa krusial, ia tinggal selama tiga belas tahun di hutan Indonesia, yang mana ia menjadi murid dari dua guru besar Pencak Silat, Bapak Djamaed dan Bapak Tjorkro, untuk mendalami ilmu Batin (Tenaga Dalam).

Selama waktu itu, Hardjono Turpijn tidak dapat melakukan interaksi dengan dunia luar, bahkan dengan keluarganya sendiri.

Pada tahun 1946, ia bergabung dengan tentara Indonesia, divisi KODAM III atau yang lebih dikenal SILIWANGI Divisi III, di bawah komando Jenderal Abdul Haris Nasution.

Setelah itu ia menjadi bagian dari PSRRI (Partisans Siliwangi Revolutionizing of the Republic of Indonesia). Sebuah gerakan pemberontakan yang di komando oleh mantan perwira militer pada tahun 1956 yang beroperasi di hutan selama masa invasi.

Pada tahun 1966 Hardjono Turpijn tinggal di Belanda, tempat dimana ia menjadi penggagas Pencak Silat daratan Eropa. Baginya, pencak silat bukanlah senam akrobatik, akan tetapi murni gerak seni dan beladiri keras yang efektif.

Turpijn punya pandangan tersendiri dalam Pencak Silat. Gaya dan karyanya yang sangat keras karena juga mendapat pengaruh dari aliran sekolah silat di Jawa Barat.

Pengalaman hidupnya di dalam hutan, latihan di berbagai perguruan Pencak Silat terutama aliran Persaudaraan Setia Hati Terate, semua itu memungkinkan Turpijn untuk mengembangkan Pencak Silat dengan karakternya sendiri.

Dia mengubah filosofi Pencak Silat dari keindahan yang dinilainya semu menjadi seni pertarungan murni yang keras dan sangat mematikan.

Di tanah Eropa, Pencak Silat disuguhkan dengan cara yang berbeda, tentunya berada di luar pakem perguruan Setia Hati Terate. Orang Eropa cenderung menyukai gerakan yang langsung yang mempunyai efek dan tidak betah berlama-lama dalam menekuni latihan seni beladiri.

Namun langkah Hardjono Turpijn malah menimbulkan ketidakharmonisan dengan pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia atau IPSI. Ketidakharmonisan ini tentunya cukup mengganggu para guru besar pencak silat di Indonesia mengingat reputasi Turpijn sangat diperhitungkan.

Tapi Turpijn tidak lantas putus asa, ia tetap teguh pada prinsipnya untuk mengembangkan pencak silat di Eropa. Dan sebagai penghormatan, alirannya itu ia beri nama Persaudaraan Setia Hati Terate Madiun.

Guru Besar HardjonoTurpijn menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 31 Juli 1996 dan dimakamkan di hedge pinus, begraafplaats dune west, Ockenburghstraat 27 di Belanda.

Berkat hasil kerja keras dan warisannya, Pencak Silat yang merupakan seni beladiri asli Indonesia bisa menjadi salah satu ilmu beladiri tersohor yang menetes hingga ke kurikulum-kurikulum pendidikan pasukan khusus di kancah internasional.


PSHT itu Tidak Kemana Mana Tapi Ada di Mana - Mana
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Advertiser